Wacana skate park mencuat, warga menjaga ruang kebersamaan di lapang Teuku Umar lewat sepak bola

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Wacana skate park mencuat, warga menjaga ruang kebersamaan di lapang Teuku Umar lewat sepak bola

Senin, 26 Oktober 2026 | Oktober 26, 2026 WIB Last Updated 2026-10-27T17:10:20Z

BERITANEWS44.COM,Hujan baru saja reda di kawasan Jalan Teuku Umar, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Minggu, 25 Oktober 2026, sekira pukul 16.00 WIB. Sekelompok orang pun berkumpul di lapang Teuku Umar untuk bermain sepak bola. 

Anak-anak hingga dewasa datang untuk berolahraga di lapangan tersebut. Beberapa dari mereka tengah melakukan pemanasan di lapang, sementara yang lainnya masih bersiap-siap.

Peluit dibunyikan, menandakan pertandingan dimulai. Di atas lapang tanah, mereka mengolah si kulit bundar. Para pemain mencoba berbagai taktik yang dirancang mendadak untuk mencetak gol. Meski bukan pemain profesional, mereka sangat menikmati pertandingan tersebut.

Namun di sudut lapangan, terpasang tiga spanduk berwarna putih dan hitam. Spanduk hitam bertuliskan "Sepak bola adalah alat perjuangan" dan "save lapangan Teuku Umar", sementara spanduk putih berisi tanda tangan warga.

Usut punya usut, lapang Teuku Umar diwacanakan diubah menjadi taman skateboard. Warga terancam kehilangan tempat yang telah lama menjadi ruang untuk bersilaturahmi melalui berbagai kegiatan, salah satunya sepak bola.

Salah seorang pemuda asal RW 10 Kelurahan Lebakgede, Arbot (28) baru mengetahui wacana alih fungsi lapang sepak bola itu pada Rabu, 21 Oktober 2026. Keesokkan harinya, terdapat pemasangan pagar seng di sisi lapangan. Hal itu membuat warga geram.

Sejumlah warga turut menyampaikan keberatan melalui surat kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Bandung. Mereka meminta agar pemasangan pagar seng yang telah dilakukan di sisi lapangan dihentikan.

"Iya, jelas itu ga setuju lah. Karena ya ini masih aktif gitu. Kenapa tiba-tiba mau diubah jadi itu tanpa ada dialog sama yang pengguna fasilitas lah gitu," kata dia saat ditemui seusai bermain sepak bola, Minggu, 25 Oktober 2026.

Baginya, lapangan tersebut bukan sekadar tempat untuk menendang bola. Di sana, ia menghabiskan sebagian masa kecilnya, tumbuh bersama teman-teman sebaya, hingga menyaksikan generasi setelahnya meneruskan kebiasaan yang sama.

Sejak kecil, Arbot bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Teuku Umar Soccer. Kebiasaan bermain bola itu berlanjut hingga ia duduk di bangku sekolah menengah atas. Setelah lulus, ia tetap menyempatkan diri datang ke lapangan setiap pekan.

"Ya dari kecil saya SSB di sni. Terus ya dari kecil emang main bola di sini lah sama warga sekitar. Terus beranjak sampai ke SMA juga masih aktif. Terus si generasinya turun ke bawah terus ngelanjutin," ujarnya.

Dia bilang, keberadaan lapangan itu tak pernah benar-benar sepi. Selain menjadi tempat bermain sepak bola bagi orang dewasa, lapangan tersebut digunakan anak-anak untuk berlatih bersama SSB. Sejumlah warga juga memanfaatkannya untuk berlatih tinju hingga senam.

Setiap Rabu dan Minggu sore, ia bersama warga lainnya rutin bermain sepak bola. Pada akhir pekan, anak-anak datang sejak pagi untuk mengikuti latihan SSB. Aktivitas itu membuat lapangan terus hidup.

Lapangan Teuku Umar juga menjadi ruang perjumpaan warga. Pertandingan sepak bola kerap membuat mereka yang sebelumnya tidak saling mengenal memiliki kesempatan untuk bertegur sapa. Di lapangan, perbedaan lingkungan tempat tinggal seolah melebur dalam permainan yang sama.

"Ya buat jaga silaturahmi antara warga lain gitu, RW-RW lain gitu yang di kewilayahan lah. Ya biar silaturahmi aja biar akrab satu sama lain. Biar di jalan bisa say hai say hai gitu," ucapnya.

Warga pernah menggunakan lapangan itu untuk nonton bareng (nobar) pertandingan final Persib Bandung pada 2024. Ia menyebut lapangan itu merupakan fasilitas bersama yang bisa digunakan tanpa biaya sewa.

Arbot mengingat, kondisi lapangan pada masa kecilnya berbeda dengan sekarang. Area tersebut dahulu masih menyerupai taman, dengan bagian tengah yang kemudian dibenahi warga agar bisa digunakan untuk bermain sepak bola.

Warga bergotong royong menata area yang tersedia hingga menjadi lapangan yang dapat digunakan secara rutin. Seiring waktu, fasilitas di sekelilingnya juga dilengkapi dengan sejumlah peralatan kebugaran bantuan dari pemerintah.

Karena itu, kabar mengenai rencana perubahan lapangan menjadi taman skateboard menimbulkan tanda tanya bagi warga. Ia mengaku tidak mengetahui adanya pembicaraan terlebih dahulu dengan warga yang selama ini menggunakan fasilitas tersebut.


×
Berita Terbaru Update