BERITANEWS44.COM,Jagat maya di Bandung sempat dihebohkan dengan beredarnya video aksi perusakan perkebunan teh di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang berujung viral di media sosial Instagram.
Dalam rekaman video yang diunggah sejumlah akun tersebut, tampak beberapa pohon teh mengalami kerusakan parah hingga tercabut dari akarnya.
Kekecewaan juga terlihat jelas dari raut wajah para petani yang meneriakkan keresahan mereka lantaran lahan garapan yang menjadi sumber penghidupan rusak begitu saja.
Sorotan publik di dunia maya ini turut memancing perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Pria yang akrab KDM itu ikut merespons insiden tersebut dengan mengunggah video tanggapan di akun pribadinya, yang di dalamnya juga memuat cuplikan ketegangan hingga dugaan konflik fisik antara petani dan pihak yang diduga melakukan perusakan.
Menanggapi gelombang protes dan viralnya video tersebut, jajaran Polresta Bandung bergerak cepat menangani sengketa serta laporan silang yang melibatkan aktivitas eksplorasi lahan Perkebunan Nusantara (PTPN) di wilayah Pangalengan.
Konflik agraria ini telah memicu pelaporan hukum timbal balik terkait dugaan perusakan lahan dan ancaman kekerasan.
Kapolresta Bandung, Kombea Tri Suhartanto mengungkapkan, gesekan di lapangan ini bermula dari adanya aktivitas di atas lahan PTPN yang berujung pada laporan pidana dari pihak-pihak yang berseteru.
"Permasalahan ini bermula dari adanya aktivitas eksplorasi di lahan PTPN.
Kemudian, terdapat laporan terkait dugaan perusakan dan pengancaman sehingga pihak kepolisian melakukan pengamanan terhadap pihak-pihak yang terlibat," ujar Tri saat dikonfirmasi, Kamis (29/10).
Tri merinci, saat ini kepolisian sektor setempat telah menerima laporan resmi dari kedua belah pihak.
Polsek Pangalengan tengah memproses laporan mengenai dugaan pengancaman, sementara pihak manajemen perusahaan melayangkan laporan atas dugaan perusakan lahan.
"Berdasarkan keterangan yang kami terima, permasalahan tersebut berkaitan dengan aktivitas di lahan dan adanya dugaan perusakan. Alhamdulillah, situasi sudah ditangani oleh Polsek Pangalengan. Kedua belah pihak juga telah membuat laporan masing-masing," tuturnya.
Pihaknya memastikan proses penyelidikan berjalan profesional. Namun, ia juga mendesak para petani maupun
manajemen PTPN agar bisa menahan diri demi meredam potensi konflik susulan dan menjaga kondusivitas keamanan di Kabupaten Bandung.
"Yang jelas, kami memohon agar kedua belah pihak sama-sama berkomitmen menjaga ketertiban sehingga
permasalahan ini tidak semakin meluas. Saat ini, perkara tersebut masih dalam tahap penanganan dan laporan yang masuk masih berproses," tegasnya.
Di sisi lain, Tri menilai bahwa berulangnya ketegangan di kawasan perkebunan Pangalengan ini kerap kali bersumber dari sumbatan komunikasi di tingkat bawah.
Karenanya, kepolisian siap menginisiasi ruang dialog guna mempertemukan kepentingan para petani sayuran dengan pihak perusahaan secara bijak.
"Kami berharap permasalahan ini bisa diselesaikan dengan mencari jalan keluar yang baik. Apalagi, persoalan seperti ini sudah berulang kali terjadi. Menurut saya, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah masalah komunikasi dan
kemungkinan adanya misinformasi antara petani sayuran dan pihak perusahaan," ungkap Tri.
Ke depan, Polresta Bandung berencana memfasilitasi forum rembuk warga dan korporasi untuk merajut rekonsiliasi agar persoalan serupa tidak terulang di kemudian hari.
"Karena itu, kami akan segera melakukan komunikasi bersama untuk mencari solusi. Jangan lagi berfokus mencari sumber masalah karena persoalannya sudah ada. Yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana menyelesaikannya," imbuhnya.
"Proses penyelidikan tentu dapat berjalan sebagaimana mestinya. Namun, kami berharap kedua belah pihak, baik petani sayuran maupun PTPN, sama-sama berkomitmen menjaga situasi tetap kondusif dan mengutamakan
penyelesaian masalah dengan baik," pungkasnya.