BERITANEWS44.COM,Di antara rimbunnya pepohonan pinus di kawasan hutan di Kampung Cipanengah, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rohana (37) tampak sibuk merawat tanaman kopi
miliknya. Ia menerapkan sistem pertanian agroforestri tumpangsari, di mana pohon kopi ditanam berdampingan dengan tumbuhan di hutan, salah satunya pinus.
Aktivitas itu menjadi rutinitas Rohana sebagai anggota Kelompok Tani Kopi Arjuna, Desa Cibodas, Lembang. Di lahan hutan yang ditanaminya, ia tak sekadar menunggu musim panen tiba.
Perawatan dilakukan secara berkala untuk memastikan tanaman kopi tetap produktif, sekaligus tumbuh berdampingan dengan flora hutan yang menaunginya.
Pria berusia 37 tahun itu dulunya merupakan petani sayuran yang
menggarap lahan di kawasan hutan. Pada 2019, Rohana memutuskan banting setir menanam kopi. Selain dinilai lebih
menguntungkan dalam jangka panjang, ia melihat budidaya kopi memiliki cara pengelolaan yang lebih sederhana.
"Bedanya kalau panen sayur bisa cepat, sedangkan kopi harus agak sabar karena
panen cuma satu tahun sekali. Tapi keuntungan lumayan. Sekali panen saya bisa untung Rp8 juta sampai Rp10 juta. Bahkan, empat tahun ke belakang saya bisa beli anak sapi dari hasil kopi," kata Rohana.
Apa yang dilakukan Rohana ternyata bukan gerakan seorang diri. Di balik kebun kopi yang tumbuh di antara pepohonan hutan Cipanengah, ada upaya bersama yang dirintis Kelompok Tani Kopi Arjuna. Kelompok yang mulai dibangun pada 2015 itu kini memiliki 23 anggota petani, termasuk Rohana.
Ketua Kelompok Tani Kopi Arjuna, Dikdik Ramdaniansyah (27), mengatakan, kelompoknya berawal dari keinginan
mengembangkan potensi kopi di kawasan Lembang. Seiring waktu, perkebunan yang dikelola berkembang hingga mencakup 14 hektare lahan. Rinciannya, dua hektare berada di kawasan hutan Cipanengah dan 12 hektare lainnya di kawasan Bukit Tunggul.
"Usaha pertanian ini kami rintis sejak 2015. Sekarang anggota kelompok ada 23 orang, dengan total lahan yang kami kelola sekitar 14 hektare," ujar Dikdik.
Di atas lahan tersebut, sekitar 30.000 pohon kopi tumbuh dan
menghasilkan kurang lebih 25 ton buah kopi atau ceri setiap tahun. Hasil panen itu kemudian diolah melalui rumah produksi mandiri dengan merek Tona's Kopi. Proses pengolahan dilakukan mulai dari buah kopi segar (cherry), biji kopi mentah (green bean), hingga biji kopi sangrai (roast bean).
Dari lereng Lembang, produk Tona's Kopi kini telah menjangkau pasar internasional. Lebanon, Jepang, Arab Saudi, Malaysia, hingga Jerman menjadi sejumlah negara tujuan pemasaran. Sementara di dalam negeri, kopi produksi kelompok tersebut dipasarkan ke Bandung, Bali, Lampung, dan sejumlah daerah lain di Pulau Jawa.
Pencapaian tersebut turut memberikan nilai ekonomi bagi para petani. Dikdik
menyebutkan, usaha Kelompok Tani Kopi Arjuna mampu menghasilkan laba sekitar Rp150 juta per tahun. Angka itu menjadi salah satu hasil dari pengembangan
perkebunan yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pengelolaan usaha secara berkelanjutan.