BERITANEWS44.COM,Suasana keprihatinan atas situasi nasional yang kian memanas memantik respons dari kalangan akademisi dan elemen masyarakat sipil di Bandung.
Lewat forum lintas disiplin bertajuk "Indonesia Berdoa", mereka berkumpul untuk merajut solidaritas sekaligus menegaskan sikap bahwa doa bukan tanda menyerah, melainkan bahan bakar moral untuk terus bergerak.
Pakar Hukum Tata Negara Universitas Padjadjaran (Unpad), Susi Dwi Harijanti, menegaskan bahwa situasi bernegara saat ini sudah masuk dalam taraf yang sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, berdiam diri bukanlah pilihan, tetapi kemarahan juga tidak boleh membutakan akal sehat.
"Kita melihat situasi sudah sangat buruk, jadi kita perlu melakukan sesuatu. Namun, yang paling penting adalah tetap memikirkan hal terbaik untuk bangsa, melangkah dengan kepala dingin, dan emosi yang tertata," ujar Susi di sela-sela kegiatan di Monumen Perjuangan, Kota Bandung, pada Jumat (23/10).
Susi menjelaskan, gerakan bertajuk Indonesia Berdoa, yang sebelumnya juga bergulir di Jakarta, dipilih sebagai wadah untuk meruntuhkan sekat perbedaan politik. Doa dinilai sebagai titik temu paling mendasar bagi kemanusiaan, tempat harapan tertinggi disandarkan kepada Sang Pencipta agar publik memiliki kejernihan dalam bersikap.
"Hanya kepada Tuhan harapan tertinggi itu disampaikan. Lewat doa ini, kita dapat menghadapi masalah dengan lebih tenang, lebih rasional, dan tentu saja bukan berarti menyerah," tegas dia.
Soroti Penangkapan Mahasiswa Aksi
Pertemuan para cendekiawan dan guru besar ini kian emosional saat menyinggung nasib mahasiswa yang sempat ditangkap dan diinterogasi aparat kepolisian pasca-aksi demonstrasi 20 Oktober lalu. Sebagian di antaranya bahkan merupakan mahasiswa Fakultas Hukum bimbingan Susi sendiri.
Meski kini mahasiswa tersebut telah dibebaskan, Susi menekankan bahwa dukungan moral bagi generasi muda yang berani bersuara harus terus dipanjatkan.
"Doa kami panjatkan hari ini untuk memperkuat adik-adik mahasiswa, termasuk mereka yang sempat ditangkap dan diinterogasi polisi. Ada mahasiswa dari Fakultas Hukum, mahasiswa saya sendiri. Bersyukur, sekarang sudah dikeluarkan," ungkap Susi.
Lebih jauh, Susi mengingatkan pentingnya konsistensi dalam memperjuangkan perubahan. Setiap elemen mulai dari mahasiswa, dosen, guru besar, hingga masyarakat sipil dan media dinilai memiliki peran serta porsinya masing-masing. Kuncinya, kata Susi, terletak pada keberanian mengambil langkah awal yang nyata secara konsisten.
"Kita selalu punya kemampuan untuk melangkah, dan itu harus dirawat secara konsisten. Sebab, sekali kita berhenti, upaya perubahan itu akan tersendat atau bahkan mati suri," seru Susi membakar semangat.
"Ayo kita berjuang bersama untuk Indonesia yang lebih baik," pungkas dia.